seni memperbaiki barang
psikologi kintsugi dan rasa syukur
Pernahkah kita menjatuhkan ponsel sampai layarnya retak, dan pikiran pertama yang muncul bukan "bagaimana cara memperbaikinya?", melainkan "wah, saatnya beli baru"? Saya sendiri sering begitu. Kita hidup di era di mana mengganti barang rusak itu terasa jauh lebih mudah. Ironisnya, kadang juga terasa lebih murah daripada meluangkan waktu untuk mereparasinya. Sepatu jebol, kita buang. Earphone mati sebelah, masuk tempat sampah. Kita terlalu terbiasa dengan kepraktisan yang instan. Namun, mari kita pikirkan sebentar. Apakah kemudahan membuang barang ini pelan-pelan mengubah cara kita melihat nilai dari sesuatu? Bahkan mungkin, tanpa sadar mengubah cara kita melihat diri kita sendiri?
Secara psikologis, otak kita memang didesain untuk menyukai hal-hal baru. Ada lonjakan dopamin yang menyenangkan setiap kali kita membuka kotak barang yang baru saja kita beli. Para ilmuwan saraf menyebutnya novelty seeking behavior. Ditambah lagi, sejak revolusi industri, kita terjebak dalam desain ekonomi yang disebut planned obsolescence. Barang memang sengaja dibuat agar usianya pendek supaya kita terus membeli. Tapi, mari kita putar waktu jauh ke belakang. Tepatnya ke Jepang pada abad ke-15. Ada seorang shogun bernama Ashikaga Yoshimasa yang tidak sengaja memecahkan mangkuk teh kesukaannya. Ia mengirim mangkuk itu ke Tiongkok untuk diperbaiki. Sayangnya, yang kembali adalah mangkuk dengan staples logam kasar yang jelek. Ia kecewa berat. Namun, kekecewaan ini justru memicu lahirnya sebuah revolusi filosofis. Sebuah gerakan yang memadukan seni, empati, dan psikologi secara tidak sengaja.
Sang shogun akhirnya meminta para pengrajin lokal untuk mencari cara lain. Ia ingin mangkuk kesayangannya kembali utuh. Tapi yang menarik, ia tidak ingin menyembunyikan retakannya. Mengapa ia memilih jalan yang lebih sulit ini? Apa yang sebenarnya terjadi di dalam otak kita ketika kita meluangkan waktu, tenaga, dan kesabaran untuk memperbaiki sesuatu yang sudah hancur? Dalam psikologi modern, ada konsep yang disebut IKEA effect. Konsep ini menjelaskan bahwa kita akan lebih menghargai sebuah benda jika kita ikut campur dalam proses perakitannya. Semakin besar usaha kita, semakin tinggi nilai emosional benda tersebut di mata kita. Tapi apa yang dilakukan para pengrajin Jepang abad ke-15 ini jauh melampaui IKEA effect. Mereka tidak sekadar merakit. Mereka melakukan sesuatu yang secara literal mengubah cara otak manusia memproses sebuah trauma dan kerusakan. Bagaimana cara mereka melakukannya?
Jawabannya adalah seni kintsugi. Alih-alih menyembunyikan retakan dengan lem bening, para pengrajin mencampur getah pohon dengan serbuk emas murni. Mereka merekatkan kepingan mangkuk itu, membiarkan garis-garis emas bersinar terang di tempat yang tadinya hancur berkeping-keping. Benda itu kini lebih indah, dan secara struktur jauh lebih kuat dari sebelumnya. Di sinilah sains dan psikologi emosi bertemu. Secara neurologis, tindakan memperbaiki barang dengan kesadaran penuh atau mindfulness dapat mengaktifkan jalur saraf yang terkait dengan regulasi emosi. Saat tangan kita sibuk merekatkan yang pecah, otak kita memproses penerimaan dan rasa syukur. Rasa syukur ini—menurut berbagai pemindaian otak melalui fMRI—terbukti meningkatkan aktivitas di korteks prefrontal medial, area otak yang merespons empati dan rasa lega. Kintsugi mengajarkan satu fakta psikologis yang keras: kerusakan bukanlah akhir dari sejarah suatu benda, melainkan bagian penting dari sejarahnya. Retakan bukanlah aib yang harus dibuang, melainkan bukti ketahanan yang harus dirayakan dengan emas.
Pada akhirnya, seni memperbaiki barang bukan sekadar tentang menghemat uang. Ini bukan cuma soal menyelamatkan bumi dari tumpukan sampah plastik. Ini adalah metafora tentang bagaimana kita memperlakukan kehidupan. Kita semua pasti punya "retakan" masing-masing. Mungkin bentuknya patah hati, kegagalan karier, atau trauma masa lalu yang belum tuntas. Di dunia moden yang selalu menyuruh kita membuang yang rusak dan mencari yang baru yang lebih sempurna, memperbaiki adalah sebuah tindakan pemberontakan yang indah. Mari kita coba melihat barang-barang di sekitar kita, atau bahkan diri kita sendiri, dengan kacamata yang sedikit berbeda. Tidak apa-apa jika ada yang rusak atau hancur. Lewat kesabaran, rasa syukur atas apa yang masih tersisa, dan sedikit "emas" berupa penerimaan diri, kita selalu bisa menyatukan kepingan itu kembali. Bukankah luka yang telah berhasil sembuh adalah bagian paling berharga dari cerita kita?